Tuesday, December 5, 2006

The Google Way

Cara Google Mengumpulkan 100 Nol

cited from Tabloid KONTAN, 13 November 2006

Raksasa situs pencari, Google, terus lapar mencaplok situs-situs lain. Perlahan namun pasti, Google mulai merajai dunia maya. Setiap tahun mereka membeli perusahaan-perusahaan kecil yang bermanfaat bagi pe­nyempurnaan produk mere­ka. Hasilnya jelas, pendapat­an iklan mereka terus me­roket.

Tahukah Anda dari mana asal nama Google, situs pencari paling populer saat ini? Larry Page dan Sergey Brin, dua orang pendiri Google, mengadopsi nana tersebut dari sebuah istilah matematika googol, sebuah satuan bi­langan yang terdiri dari angka 1 de­ngan 100 nol di belakangnya. Dua siswa Stanford University tersebut bermimpi menciptakan mesin pencari di dunia maya yang mampu menyediakan informasi sebanyak itu.

Impian mereka boleh dikata telah terwujud. Jutaan keping infor­masi mereka sediakan secara gra­tis kepada para pengguna internet di seluruh dunia. Namun, itu tak menjadikan dua orang pendirinya puas sekadar menjadi tukang tunggu server penampung informasi. Mereka terus berupaya membeng­kakkan dan memanjangkan belalai bisnis.

Salah satunya terjadi pada bulan lalu. Google membuat banyak orang kaget karena memasang taruhan yang sangat besar dengan membeli YouTube, sebuah situs pencari vi­deo gratis. Tidak tanggung-tanggung, mereka menghargai perusahaan itu senilai US$ 1,65 miliar. Tinggi­nya nilai transaksi itu membuat ba­nyak orang terhenyak. "Jika Anda percaya masa depan pertelevisian, jelas US$ 1,6 miliar itu layak. Tapi jika tidak, mungkin harganya tidak akan semahal itu," kata Steven A.Ballmer, CEO Microsoft.

Apa yang ada di benak petinggi Google saat mengakuisisi You-Tube? "Chad dan Steve mengingat­kan saya akan Larry dan Sergey," kata Eric Schmidt, CEO Google Inc. Chad Hurley dan Steve Chen adalah dua anak muda berusia dua puluhan tahun yang mendirikan YouTube pada 2005. Drama keber­hasilan YouTube memang hampir-­hampir menyerupai Google. Bermodal utang seadanya serta se­buah impian warung kopi, mereka berhasil membangun situs video paling banyak diakses di internet. Tentu saja bukan hanya itu yang membuat Google tertarik meng­akuisisi YouTube. Menurut Hitwi­se, sebuah perusahaan riset pema­saran, jumlah pengunjung YouTube ternyata empat kali lebih banyak ketimbang pengunjung Google Video. Database YouTube menca­tat setiap hari ada 65.000 video -yang di-upload para pengguna internet ke seluruh dunia ke server situs itu. Jadi, Anda jangan heran kalau setiap hari sekitar 100 juta klip video diakses melalui YouTube. Pengunjung YouTube pun meningkat pesat data 2,8 juta tahun lain menjadi 72 juta pada Agustus 2006. Rupanya Google lebih suka merangkul pesaing yang sudah bertaring ketimbang berseteru me­lawannya.

Google sendiri tidak berencana menggabungkan YouTube ke dalam Google Video. Bahkan, para pimpinan YouTube tetap diberi tempat dan otonomi yang sama. "Bergabung dengan Google akan bermanfaat karena Google punya jangkauan global dan teknologi, sehingga kami bisa menyajikan hi­buran yang lebih baik ke para pengunjung dan menciptakan pe­luang baru bagi mitra-mitra kami," ujar Hurley.

Terus mencaplok sepanjang waktuYouTube hanyalah perusahaan kesekian yang menjadi sasaran akuisisi Google. Kini perusahaan yang berawal dari bisnis pencarian itu telah menjadi konglomerat mul­tinasional. Google memasuki ham­pir setiap sudut arena bisnis internet. Seperti banyak konglomerat lain, cara singkat Google mengem­bangkan sayap mereka adalah de­ngan membeli perusahaan-perusa­haan lain.Berbeda dengan pesaingnya yang rata-rata merangkul perusa­haan-penrsahaan besar, Google justru acap bertindak sebaliknya. Perusahaan-perusahaan yang men­jadi sasaran Google punya bebera­pa karakteristik khusus. Pertama, perusahaan itu punya tim pen­gembangan yang hebat. Kedua, memiliki produk, teknologi, dan in­telektual properti yang menarik dan inovatif. Kemudian, ketiga, perusahaan incaran biasanya bisa dibilang baru saja mulai mekar kuncupnya sehingga harganya murah.

Kelaparan Google membeli per­usahaan lain bermula pada 2003. Saat itu Google mengawali hobi­nya dengan mengakuisisi Pyra Labs, Provider weblog Blogger. Se­telah itu Google mengakuisisi Neo­tonic Software, Applied Semantic, Kalttx, dan Sprinkx. Tiga nama ter­akhir diakuisisi Google untuk me­ngembangkan program Adwords dan Adsense.

Tahun 2004 Google mengakuisisi Ignite Logic, Baidu, Picasa, Key-hole Corp., dan dua buah perusa­haan dari Lembah Silikon, Zipdash dan Where2 LLC. Langkah pembelian gila-gilaan ini semakin menja­di-jadi di kurun 2005. Tahun itu Google mengakuisisi 15 perusahaan dengan total nilai pembelian US$ 130,535 juta.

Sejak awal 2006, Google sema­kin menampakkan niat ekspansi­nya. Pada bulan pertama Google mengakuisisi dMarc Broadcasting senilai US$ 102 juta, dengan tam­bahan pembayaran US$ 1,136 juta jika dalam tiga tahun performa per­usahaan ini memenuhi target ter­tentu. Selanjutnya, Google meng­akuisisi Measure Map dari Adap­tive Path, serta @Last Software, pembuat program SketchUp. SketchUp dapat menambahkan image 3D ke dalam Google Earth. Google juga membeli program algoritma pencarian teks yang dite­mukan oleh seorang pelajar Israel di Universitas New South Wales, Australia. Setelah itu mereka mengakuisisi GTalkr yang nantinya dipadukan dengan Google Talk. Langkah pembelian sempat berhe­nti sejenak di bulan ke-6 ketika Google menjual 750.000 sahamnya di Baidu, perusahaan miliknya yang berbasis di Beijing. Sesudah­nya, pada Agustus lalu, mereka mengakuisisi Neven Vision.

Mengandalkan riset pengembangan usahaMeskipun tak memungut biaya bagi para pemburu informasi lewat situsnya, Google meraup Iaba luar biasa dari berbagai sumber lain, terutama iklan. Ratusan juta dolar per tahun mengalir masuk lewat paket Adwords dan Adsense Goo­gle. Melalui dua fasilitas itu Google menampilkan situs si pengiklan sesuai kata kunci pilihan yang akan diakses pengunjung. Imbal baliknya, pengiklan kudu memba­yar ke Google setiap kali situsnya diklik.

Tahun lalu, penjualan iklan me­reka mencapai US$ 6,1 miliar, me­lonjak 92% dari tahun sebelumnya Berita gembira itu terus berlanjut sampai kini. Pada kuartal ketiga tahun ini, Google sudah mengan­tongi omzet sebesar US$ 2,69 mi­liar, naik 70% dan posisi sama tahun lalu.
Kejelian Google mengincar per­usahaan-perusahaan lain bukan buah dari spekulasi sembarangan. Mereka berhasil membidik perusa­haan-perusahaan yang tepat dan punya kontribusi besar mengum­pulkan keuntungan lantaran meng­utamakan riset. Tahun lalu, contohnya, Google merogoh kocek se­dalam US$ 483,98 juta untuk membiayai berbagai program riset mereka.

Hasilnya kini bisa kita nikmati secara gratis: Gmail, Google News, Google Maps, Froogle, Google Vi­deo Search, Google Scholar, Google Groups, Google Book Search, Goo­gle Earth, Google Finance, Google Local, Google Labs, Google Talk, dan lainnya. Tiga andalan mereka adalah Google Search (79,98%), Google Image Search (9,54%), dan Google Mail (5,51%). Nah, siapa coba pemasang iklan yang tak tergoda memasang merek­nya pada sites sekomplet itu? ***

1 comment:

Anonymous said...

Yes if the truth be known, in some moments I can bruit about that I approve of with you, but you may be inasmuch as other options.
to the article there is stationary a suspect as you did in the go over like a lead balloon a fall in love with publication of this request www.google.com/ie?as_q=cypresscu.sk.ca ?
I noticed the axiom you have not used. Or you use the pitch-dark methods of promotion of the resource. I take a week and do necheg